0853 2001 2201 – 0812 2016 6708

Aksa Mahmud : Saudaramu lebih tinggi dari pada uang

Aksa Mahmud : Saudaramu lebih tinggi dari pada uang

Bisnis Indonesia Journalist : NENENG HERBAWATI

AKSA mahmud Lahir Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945 Pendidikan · 1965 – Fakultas Teknik Elektro Univ. Hasannudin di Makassar Pekerjaan · 2004-2009 Wakil Ketua MPR RI · 2004-2009 Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Selatan · 1968-sekarang Pendiri Bosowa Group Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif.

Tulisan kali ini menampilkan Aksa Mahmud, pemilik Bosowa Group. Meski masuk dalam kelompok 100 orang kaya di Indonesia, nama Aksa Mahmud sering berada di bawah bayang-bayang iparnya, mantan Wapres Jusuf Kalla. Sejak awal dia sudah berusaha memisahkan diri dan membangun bisnis sendiri. Hasilnya memang menakjubkan. Bosowa yang dari awal hanya berbisnis otomotif dan semen sekarang meluas ke bisnis infrastruktur dan media cetak. Untuk mengetahui sepak terjangnya, berikut adalah penuturan Aksa Mahmud.

Kapan Bapak pertama kali terjun ke dunia bisnis?

Saya mencoba mengingat perjalanan. Dari awal saya mungkin berkeinginan terjun ke bisnis, tetapi sepertinya tidak terencana. Sejak kecil di kampung [daerah Barru, Sulawesi] ketika sekolah dasar saya jual permen di samping sekolah. Kalau bulan puasa saya jual kurma. Sore hari ketika orang mau berbuka puasa, saya menjual es. Baru saya sadar kalau sejak kecil saya suka mencari uang. Itu berlanjut. Ketika sekolah lanjutan [SMA], kalau musim panen kacang tanah, saya bawa dari kampung dan menjual ke Makassar. Tetapi itu saya lakukan tanpa modal, hanya kepercayaan saja. Itu sebabnya saya selalu berpesan kepada anak-anak bahwa kepercayaan dalam dunia bisnis itu nomor satu. Sekali kita lepas kepercayaan kepada seseorang, itu akan hilang. Tetapi kalau kita kehilangan uang, masih bisa kita cari. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Hassanuddin (Unhas) terjadi proses peralihan dari orde lama ke orde baru, dari Bung Karno ke Pak Harto. Saat itu, bersama-sama dengan Pak Jusuf Kalla aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)). Saya kenal Pak Jusuf. Ayahnya itu [H. Kalla] termasuk salah satu dari 22 orang terkaya (saudagar Bugis). Dari situ, waktu proses ini [peralihan politik] Pak Solihin GP (Panglima Kodam Hassanuddin) menunjuk kami menjadi penyalur kebutuhan bahan pokok.Saya diminta memimpin distribusi sembilan bahan pokok. Ketika ayahnya Pak Jusuf mulai memberikan sebagian perusahaan untuk dijalankan kepada beliau, kami, beberapa mahasiswa mengikuti Pak Jusuf, membantu perusahaannya. Saya, Alwi Hammu dan Syariffuddin Hussein, serta lainnya. Dalam perjalanan, perusahaan berkembang menjadi lebih besar di tangan Pak Jusuf dan saya membantunya di bagian marketing. Kapan mulai pisah dari Pak Jusuf dan mulai membangun Bosowa? Setelah menikahi adiknya Pak Jusuf, saya berpikir di perusahaan itu tidak mungkin ada dua nakhoda. Kalau tetap di situ artinya perkembangan saya pasti terbatas. Di satu sisi sebelum saya menikah, saya sudah membikin perusahaan. Saat Widjojo Nitisastro dan Ali Wardana membacakan kebijakan moneter perubahan nilai tukar rupiah, besoknya saya ke notaris mendirikan perusahaan namanya CV Moneter (1970-an). Tepatnya, 22 Februari. Itu yang menjadikan dasar ulang tahun Bosowa.

Apa bisnis pertama yang dilirik Bosowa?

Saya menjadi diler Datsun pertama dengan nama CV Moneter. Setelah itu, berbekal pengalaman saya menjadi diler Mitsubishi di Makassar. Awalnya, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) memberikan isyarat, kalau saya menjadi diler harus ada nama Tiga Berlian-nya. Saya sampaikan tiga berlian di Sulawesi Selatan itu adalah tiga kerajaan Bone, Sopeng dan Wajo, yang saya kasih nama Bosowa. Jadi tiga kerajaan Bugis ini berlian juga karena tidak pernah perang. Bone unggul memerintah, Sopeng terkenal sebagai penghasil [produsen]. Wajo latar belakangnya adalah pengusaha. Nah saya sampaikan ke Jepang, setuju tidak saya pakai nama Bosowa artinya Tiga Berlian, mereka setuju. Itulah awal dari perjalanan Bosowa. Bisnis diler Mitsubishi berkembang dan Bosowa menjadi diler di 13 provinsi di bagian timur Indonesia. Saya betul-betul menanam kepercayaan dengan pihak Jepang. Mereka melihat saya bekerja serius dan mengetahui komitmen saya. Bosowa kemudian meluas menjadi eksportir udang ke Tokyo, dan macam-macam seperti sekarang ini.

Apa latar belakang Bosowa terjun ke bisnis koran?

Ketika bersama dengan Pak Jusuf, kami membuat koran mahasiswa. Di situ bergabung Alwi Hammu, Syariffuddin Hussein, saya dan Jusuf Kalla. Sebagai wartawan, saya menulis berita yang sangat keras terhadap operasi gerombolan Syamsudari. Saya kritik bahwa tentara melakukan kekerasan, penganiayaan dan pemerkosaan. Saya dipanggil Kodam dan ditahan (1967). Saya menulis ini sesuai data. Saya naik motor sampai 200 kilometer memburu berita ini. Persoalan ini sampai ke Pak Sudomo [Pangkokamtib]. Saya diminta untuk tidak menulis. Kesimpulan saya waktu itu, profesi wartawan itu tidak membahagiakan, karena apa yang benar yang saya harus tulis tidak boleh dilakukan. Profesi ini harus saya tinggalkan karena tidak akan membuat jiwa saya puas karena harus berhadapan dengan kekuatan militer. Tidak seperti sekarang. Akhirnya saya berpikir menjadi pebisnis. Setelah Bosowa berkembang akhirnya saya merenung bahwa pada salah satu perjalanan hidup saya yang istimewa adalah pernah ditahan oleh Kodam. Maka saya meminta manajemen Bosowa, kita harus membuat koran. Itulah sebabnya Bosowa bekerja sama dengan Kompas, Gramedia mendirikan Tribun Timur di Makassar.

Bagaimana dan kapan Bapak mulai menyerahkan roda bisnis ini kepada generasi kedua?

Pertama saya serahkan pelan-pelan kepada Erwin, saya sempat mengantar dia 5 tahun, saya lihat kemampuannya, apakah potensinya sudah mulai keluar dan tanggung jwabnya sudah tinggi. Ketika saya terjun ke politik dan menjadi pimpinan di MPR, saya harus serahkan sepenuhnya ke Erwin, dengan pesan bahwa dia memimpin bisnis dan sekaligus memimpin adik-adiknya. Saya tanamkan filosofi ini bahwa ‘saudaramu lebih tinggi daripada uang.’ Sekali hubungan rusak, saudaramu itu tidak akan kembali. Tetapi kalau uang hilang kamu masih bisa mencari, uang boleh kita hilangkan, tapi saudara jangan. Tetapi sekarang Erwin masih menyiapkan ruangan kerja buat saya dengan pesan, bapak boleh menerima tamu di sini untuk membicarakan negara atau apa saja, tapi tidak untuk mengambil keputusan bisnis. Saya taat. Tapi katanya Bapak ikut berperan ketika Bosowa mengambil Bank Kesawan? Begini, di sini ada sesuatu yang emosional. Saya sadar kalau saya memang punya cita-cita mempunyai bank. Tetapi obsesi itu belum terpenuhi ketika saya harus mundur. Saya sering katakan kepada para saudagar Bugis bahwa kita kelihatan memiliki kebesaran di dunia usaha, tetapi tidak satu pun yang memiliki bank. Waktu menjadi Ketua Kadin, saya anjurkan teman-teman untuk membentuk BPR/BPRS, tapi rupanya tidak ada yang melaksanakan. Akhirnya saya dirikan sendiri BPRS, saya jalani sampai sekarang, namanya BPRS Moneter. Jadi semua riwayat saya dengan masa lalu terpenuhi sekarang. Kalau dulu saya mendirikan BPRS Moneter, sekarang saya memiliki bank, ketika dulu saya menjadi wartawan, sekarang membangun surat kabar.

Apakah tidak kecewa ketika sekarang harus melepas kegiatan bisnis?

Tidak kecewa walaupun ada perbedaannya. Terasanya setelah saya jadi pejabat negara, karena tidak terbiasa dengan kegiatan protokoler. Pengusaha kalau mau menjadi pejabat negara salah satu persoalannya adalah protokoler. Kalau pengusaha tidak perlu duduk di depan, pejabat negara selalu duduk di depan. Pengusaha itu kalau duduk di belakang biar bisa melobi atau membina hubungan silaturahmi, sedangkan pejabat negara hanya bisa berbicara dengan yang di samping kanan dan kirinya. Pengusaha bisa sampai 30-40 orang kita temui, kalau pejabat negara terbataslah. Nah, itulah ada untung ruginya. Tapi menjadi pejabat negara itu tidak gampang. Anda boleh punya uang segudang tapi belum tentu mendapat kesempatan. Saya juga tidak pernah bermimpi menjadi pimpinan MPR, tapi itu terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s