0853 2001 2201 – 0812 2016 6708

sekilas TOKOH

Cara menjadi Kaya dari Investasi Memiliki sejumlah Property

SEwawanRINGKALI anak-anak muda amat mementingkan soal penampilan dan eksistensi tatkala bertemu dengan kawan-kawannya. Lebih-lebih ketika mereka bertemu saat mengadakan acara reunian. Penampilan baik merk pakaian apa yang dipakai, tempelan property yang menempel dalam tubuh, pun khususnya tumpangan kendaraan apa yang dipakai, sudah merupakan sesuatu yang seringkali menjadi perhatian utama. Akibatnya cara berpikir untuk menakar kesuksesan seseorang berakhir dalam sorotan apa yang dilihat di “permukaan”. Padahal apa yang dilihat tersebut seringkali tidak jauh dari setting pencitraan yang bisa jadi “menjebak” siapa yang melihatnya, pun demikian menipu mereka yang melakukannya.  (lebih…)

Iklan

MEMAKSIMAL potensi Kemerdekaan Ruang ……….. 11.53 Wib, 1 November 2015

SEKILAS tidak ada yang aneh saat kubaca majalah baru kulihat. Setelah kubaca siapa pengelola dan penerbitnya, majalah tersebut diterbitkan oleh para Warga Binaan (warna) yang saat ini sedang “mesantren” di lapas 1 Sukamiskin. Lalu kubaca lembar demi lembar majalah yang dibandrol harga Rp 10.000 dengan catatan khusus untuk kalangan sendiri. Temanya beragam dan ditulis oleh para warna sesuai dengan latar belakang keahlian, pekerjaan lama, atau hobinya. Lebih-lebih ada juga tulisan dengan tema sederhana soal permainan kartu gapleh yang ditulis oleh seorang “warna” yang ditulis seorang mantan menteri di jaman Presiden SBY.

Tulisan ini tidak hendak berkomentar soal siapa, tema apa dan bagaimana tulisan mereka. Penulis hanya terinspirasi oleh bagaimana nilai-nilai hidup mereka saat ini terkondisikan sebagai sesama warga binaan ternyata telah meningkatkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial. Lebih-lebih ada media dimana mereka bisa sedikit lebih terbuka, lebih bisa menshare dan memaksimalkan potensi menulis sebagai bagian penting sisi positif mengisi waktu selama menjadi warga binaan. Lebih dari itu, penulis merasa bahwa mereka mencoba bertahan hidup dan memaksimalkan potensi ditengah kungkungan dan batasan dinding tembok sebagai warga binaan. Kita hanya membayangkan bagaimana mereka menjalani rutinitas sehari-hari, dari waktu ke waktu dengan aktifitas terbatas dan ruang lingkup terbatas, tetapi bisa tetap sehat lahir dan batin.

Artinya, mereka yang dibatasi serba kekurangan dari pengertian kebebasan ruang, ternyata bisa juga memaksimalkan potensinya, apalagi yang berada di luar kungkungan dan keterbatasan secara fisik. Mereka yang diluar penjara seharusnya bisa memaksimalkan potensi diri dan kemampuan, karena banyak ruang dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Apalagi dengan akses dunia IT, akses teknologi alat-alat komunikasi semakin memudahkan kita melakukan komunikasi walaupun dibatasi oleh jarak dan perbedaan waktu.

Dengan demikian tidak ada alasan lagi untuk hidup bermalas-malasan dan mendiamkan diri dalam keluh-kesah yang tidak memberikan dampak positif apapun terhadap masa depan. Dunia ini terlalu luas untuk berkreasi, dan move on. Hayu ….


Bisnis online, mempermudah bertemunya Produsen-Buyer

TIDAK terasa, tepat bulan Juli 2007 blog ini kami desain untuk menjadi media yang menginformasikan berbagai lokasi property yang kami pasarkan. Hampir tujuh tahun lamanya blog ini kami kelola. Berbagai temuan dan permasalahan selama mengelola blog ini kami alami. Suka duka selama mengelola dan mengupdate berbagai informasi penting yang dibutuhkan konsumen baik yang berniat menjual, membeli maupun menyewakan dan menyewa property adalah catatan sehari-hari kami yang terjun langsung dalam bisnis ini. Itu semua menguatkan mental dan sekaligus mengasah skil kami dalam menata blog ini menjadi lebih bersifat informatif.

Kami hadir menawarkan sesuatu yang berbeda disaat-saat awal-awal kami menawarkan property dengan informasi yang lebih komprehensif. Informasi property yang tidak hanya berupa tulisan teks “DIJUAL” tetapi sekaligus menampilkan spesifikasi yang lebih lengkap dan tentunya pula gambar-gambar yang lebih memperjelas property yang ditawarkan. Hal ini membantu konsumen untuk menilai, melihat dan membanding-banding sebelum akhirnya survai langsung ke lokasi untuk cek kondisinya. Oleh karena itu tidak heran jika blog kami senantiasa masuk link rangking 5 besar pencarian property di Bandung jika konsumen menggunakan mesin pencari Google untuk mendapatkan informasi tersebut.

Namun demikian seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan alat-alat komunikasi, yaitu BB, dan android, maka pencarian property pun bisa dilakukan kapan saja dengan mudah di tangan konsumen. Mereka bisa aktifkan BB dan perangkat canggih alat-alat informasi dan komunikasi secepat mungkin. Akhirnya media situs-situ yang menampilkan property yang dijual pun akhirnya semarak. Konsumen dengan mudah mencari dan mendapatkan property dari layanan situs-situs tersebut. Contoh nyata adalah hadirnya situs rumah.com, rumah123.com, dan beberapa situs lainnya.

Untuk itulah kami ingin tetap hadir dan dibutuhkan konsumen. Jika ada masukan dan saran tentu dengan kerendahan hati kami akan menerimanya demi perbaikan layanan. Karena kami bertekad bahwa Totalitas Dalam Pelayanan adalah kunci penting suksesnya bisnis ini. Terima kasih, Salam.

 

WAWAN DARMAWAN

Owner, Pengelola, dan Praktisi Broker Property TOTAL property

0812 2016 6708 / pin BB 29D3A8D1

HUB: WAWAN DARMAWAN - 0812 2016 6708 / PIN BB 29D3A8D1

HUB: WAWAN DARMAWAN – 0812 2016 6708 / PIN BB 29D3A8D1


Wawancara Khusus Gelembung Pasar Properti RI, Mungkinkah Bisa Pecah?

Rabu, 06/07/2011 10:20 WIB
Wawancara Khusus
Gelembung Pasar Properti RI, Mungkinkah Bisa Pecah?
Whery Enggo Prayogi – detikFinance

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Artadinata Djangkar (Foto: Facebook)

Jakarta – Pertumbuhan pasar properti sepanjang semester I-2011 luar biasa, dengan kenaikan harga bisa mencapai kenaikan 20% hanya dalam waktu enam bulan. Namun para pemain industri properti meyakini gelembung harga properti tidak akan pecah.

Bahkan kenaikan ini diprediksi terus berlanjut hingga 2012, seiring dengan pertumbuhan pasar properti. Dengan dukungan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, serta suku bunga yang relatif terjaga, menjadikan pasar properti terus merangkak naik.

Bagaimana pandangan pelaku industri properti terhadap pasar Indonesia? Serta potensi bubble akibat melajunya pembangunan, khususnya di kota-kota besar macam Jakarta?

Berikut wawancara detikFinance Direktur PT Ciputra Property Tbk (CTRP), Artadinata Djangkar di Marketing Galery Ciputra World tahap II , Jalan DR Satrio Jakarta, Selasa (5/7/2011).

Pertumbuhan pasar properti hingga semester I tahun ini apakah lebih baik dari tahun sebelumnya? Apakah tren pertumbuhan masih bisa terjadi hingga akhir tahun?

Kami sebagai pemain properti selalu menangkap tanda-tanda pasar. Pada semester I ini tercermin dengan kenaikan harga yang relatif tinggi, boleh dibilang luar biasa. Pada Ciputra World harga sudah ada kenaikan 20% dalam enam bulan pertama.

Tidak hanya kami, pemain lain juga mengalami hal yang sama. Contoh Alam Sutera, juga mencapai penjualan yang memenuhi target. Ini merupakan tanda-tanda positif.

Pasar properti sangat sensitif dengan tingkat suku bunga. Apakah ada potensi suku bunga naik, hingga berpengaruh kepada pertumbuhan sektor properti?

Suku bunga akan naik, namun tidak signifikan, bahkan akan stabil. Ini terjadi sampai dengan tahun depan dan market properti masih akan sangat kuat.

Pasar properti saat ini merupakan suatu opportunity baru. Ini tidak selamanya hingga kami akan memanfaatkan window opportunity ini. Untuk itulah kami perkenalkan proyek baru, Ciputra World tahap II.

Ciputra World II bukan satu-satunya proyek di tahun ini. Demi memanfaatkan kesempatan ini, kami akan luncurkan satu proyek lagi pada akhir tahun. Proyek lain di daerah Slipi hasil join operation. Ini akan berbentuk strata title kantor dan shop house, semacam rukan. Akan ada investasi tersendiri.

Dengan developer yang terus membangun, apa tidak berpotensi terjadi bubble?

Bubble tidak. Karena market properti Indonesia sangat unik. Market masih tertutup, dan belum ada kepemilikan asing yang signifikan. Ini membuat properti Indonesia tidak rentan kepada bubble.

Bubble juga tidak terjadi karena kita memiliki rem alamiah. Yaitu sekarang bank secara hati-hati memberi pinjaman kepada dunia properti. Dengan kata lain selektif. Tidak seperti jaman sebelum krisis tahun 1998. Kalau developer ingin membangun, harus percaya kepada market. Ga bisa bangun kalau market ga ada. Ga seperti dulu.

Maka dengan ini, kami tidak percaya akan bubble. Kalau market melemah, maka developer akan menambah remnya.

Bagaimana dengan pertumbuhan landed houses?

Kami pikir akan positif juga. Tidak hanya apartemen. Perumahan dan ritel lain-lain juga akan mengalami pertumbuhan. Ciputra juga akan fokus pada dua-duanya.

Konsep theme park pada pada beberapa developer apa bisa mendukung daya beli masyarakat dalam pasar properti?

Theme park akan berhasil apabila masyarakat telah memiliki income tertentu. Mereka sudah berfikir mengenai hiburan. Itu sebabnya kami buat theme park di dalam Ciputra World yang saat ini sedang dibangun.

Gejala yang sama terjadi pada Trans, yang membangun Trans Studio. Ini semua sama, yaitu menangkap daya beli masyarakat yang telah lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Potensi pertumbuhan properti dengan konsep strata tittle seperti apa? Apakah sama baiknya dengan unit properti sewa, baik apartemen ataupun perkantoran?

Konsep ini memang memungkinkan kepemilikan. Ini menjadi sub market yang ada. Perusahaan-perusahaan tertentu lebih rela beli dari pada sewa. Jadi kami anggap bagian market yang ada.

Perizinan tidak menjadi kendala, karena Undang-Undang rumah susun dan tata laksananya sudah ada sejak tahun 1990. Ini menjadi latar belakang dan sampai sekarang tidak ada masalah. Tapi timbul masalah saat ada kekompakan penghuni dalam pemeliharaan. Ini bukan payung hukum, tapi manajemennya. Manajemen pun perlu pendewasaan.

Potensi kepemilikan asing pada unit properti di Indonesia, apakah menambah risiko bubble?

Kami melihat sisi positif (kepemilikan asing) lebih banyak. Kita lihat apa rela, uang dari Indonesia keluar untuk membeli properti di luar. Singapura sepertinya. Tapi uang asing tidak masuk ke properti kita. Ini merasa kurang adil.

Dari sudut pandang itu, kami dukung kepemilikan asing. Kalau risiko bubble harus dikontrol dengan policy-policy tertentu. Tapi secara prinsip sayang sekali uang kita keluar, tapi nggak ada yang masuk.

Infrastruktur jalan, serta transportasi umum sering menjadi kendala pertumbuhan properti di suatu kawasan. Bagaimana developer menanggapi hal tersebut?

Yang paling bijak, developer itu harus support perkembangan secara alamiah. Yaitu demografi, persebaran penduduk seperti yang kita tahu Jakarta. Memang ada problem perkembangan infrastruktur tidak secepat properti.

Jadi kami sangat mendukung pemerintah dalam memecahkan kendala infrastruktur. Seperti jalan layang yang ada di DR Satrio, juga rencana MRT yang katanya akan dimulai 2012.

Infrastruktur menjadi bagian pemerintah. Mereka yang harus ambil inisiatif, mengakomodir, dan melaksanakan proyek-proyek infrastruktur. Kemampuan kami terbatas pada lingkungan properti yang berkaitan. Misal, Ciputra World I, kami memiliki jalan samping dan belakang. Ini kontribusi kami. Tanahnya kami berikan untuk jalan. Tapi dalam skala besar menjadi tugas pemerintah.


Aksa Mahmud : Saudaramu lebih tinggi dari pada uang

Aksa Mahmud : Saudaramu lebih tinggi dari pada uang

Bisnis Indonesia Journalist : NENENG HERBAWATI

AKSA mahmud Lahir Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945 Pendidikan · 1965 – Fakultas Teknik Elektro Univ. Hasannudin di Makassar Pekerjaan · 2004-2009 Wakil Ketua MPR RI · 2004-2009 Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Selatan · 1968-sekarang Pendiri Bosowa Group Bisnis Indonesia, dalam rangka HUT ke-25, menampilkan sejumlah tokoh bisnis yang inspiratif.

Tulisan kali ini menampilkan Aksa Mahmud, pemilik Bosowa Group. Meski masuk dalam kelompok 100 orang kaya di Indonesia, nama Aksa Mahmud sering berada di bawah bayang-bayang iparnya, mantan Wapres Jusuf Kalla. Sejak awal dia sudah berusaha memisahkan diri dan membangun bisnis sendiri. Hasilnya memang menakjubkan. Bosowa yang dari awal hanya berbisnis otomotif dan semen sekarang meluas ke bisnis infrastruktur dan media cetak. Untuk mengetahui sepak terjangnya, berikut adalah penuturan Aksa Mahmud.

Kapan Bapak pertama kali terjun ke dunia bisnis?

Saya mencoba mengingat perjalanan. Dari awal saya mungkin berkeinginan terjun ke bisnis, tetapi sepertinya tidak terencana. Sejak kecil di kampung [daerah Barru, Sulawesi] ketika sekolah dasar saya jual permen di samping sekolah. Kalau bulan puasa saya jual kurma. Sore hari ketika orang mau berbuka puasa, saya menjual es. Baru saya sadar kalau sejak kecil saya suka mencari uang. Itu berlanjut. Ketika sekolah lanjutan [SMA], kalau musim panen kacang tanah, saya bawa dari kampung dan menjual ke Makassar. Tetapi itu saya lakukan tanpa modal, hanya kepercayaan saja. Itu sebabnya saya selalu berpesan kepada anak-anak bahwa kepercayaan dalam dunia bisnis itu nomor satu. Sekali kita lepas kepercayaan kepada seseorang, itu akan hilang. Tetapi kalau kita kehilangan uang, masih bisa kita cari. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Hassanuddin (Unhas) terjadi proses peralihan dari orde lama ke orde baru, dari Bung Karno ke Pak Harto. Saat itu, bersama-sama dengan Pak Jusuf Kalla aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)). Saya kenal Pak Jusuf. Ayahnya itu [H. Kalla] termasuk salah satu dari 22 orang terkaya (saudagar Bugis). Dari situ, waktu proses ini [peralihan politik] Pak Solihin GP (Panglima Kodam Hassanuddin) menunjuk kami menjadi penyalur kebutuhan bahan pokok.Saya diminta memimpin distribusi sembilan bahan pokok. Ketika ayahnya Pak Jusuf mulai memberikan sebagian perusahaan untuk dijalankan kepada beliau, kami, beberapa mahasiswa mengikuti Pak Jusuf, membantu perusahaannya. Saya, Alwi Hammu dan Syariffuddin Hussein, serta lainnya. Dalam perjalanan, perusahaan berkembang menjadi lebih besar di tangan Pak Jusuf dan saya membantunya di bagian marketing. Kapan mulai pisah dari Pak Jusuf dan mulai membangun Bosowa? Setelah menikahi adiknya Pak Jusuf, saya berpikir di perusahaan itu tidak mungkin ada dua nakhoda. Kalau tetap di situ artinya perkembangan saya pasti terbatas. Di satu sisi sebelum saya menikah, saya sudah membikin perusahaan. Saat Widjojo Nitisastro dan Ali Wardana membacakan kebijakan moneter perubahan nilai tukar rupiah, besoknya saya ke notaris mendirikan perusahaan namanya CV Moneter (1970-an). Tepatnya, 22 Februari. Itu yang menjadikan dasar ulang tahun Bosowa.

Apa bisnis pertama yang dilirik Bosowa?

Saya menjadi diler Datsun pertama dengan nama CV Moneter. Setelah itu, berbekal pengalaman saya menjadi diler Mitsubishi di Makassar. Awalnya, Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) memberikan isyarat, kalau saya menjadi diler harus ada nama Tiga Berlian-nya. Saya sampaikan tiga berlian di Sulawesi Selatan itu adalah tiga kerajaan Bone, Sopeng dan Wajo, yang saya kasih nama Bosowa. Jadi tiga kerajaan Bugis ini berlian juga karena tidak pernah perang. Bone unggul memerintah, Sopeng terkenal sebagai penghasil [produsen]. Wajo latar belakangnya adalah pengusaha. Nah saya sampaikan ke Jepang, setuju tidak saya pakai nama Bosowa artinya Tiga Berlian, mereka setuju. Itulah awal dari perjalanan Bosowa. Bisnis diler Mitsubishi berkembang dan Bosowa menjadi diler di 13 provinsi di bagian timur Indonesia. Saya betul-betul menanam kepercayaan dengan pihak Jepang. Mereka melihat saya bekerja serius dan mengetahui komitmen saya. Bosowa kemudian meluas menjadi eksportir udang ke Tokyo, dan macam-macam seperti sekarang ini.

Apa latar belakang Bosowa terjun ke bisnis koran?

Ketika bersama dengan Pak Jusuf, kami membuat koran mahasiswa. Di situ bergabung Alwi Hammu, Syariffuddin Hussein, saya dan Jusuf Kalla. Sebagai wartawan, saya menulis berita yang sangat keras terhadap operasi gerombolan Syamsudari. Saya kritik bahwa tentara melakukan kekerasan, penganiayaan dan pemerkosaan. Saya dipanggil Kodam dan ditahan (1967). Saya menulis ini sesuai data. Saya naik motor sampai 200 kilometer memburu berita ini. Persoalan ini sampai ke Pak Sudomo [Pangkokamtib]. Saya diminta untuk tidak menulis. Kesimpulan saya waktu itu, profesi wartawan itu tidak membahagiakan, karena apa yang benar yang saya harus tulis tidak boleh dilakukan. Profesi ini harus saya tinggalkan karena tidak akan membuat jiwa saya puas karena harus berhadapan dengan kekuatan militer. Tidak seperti sekarang. Akhirnya saya berpikir menjadi pebisnis. Setelah Bosowa berkembang akhirnya saya merenung bahwa pada salah satu perjalanan hidup saya yang istimewa adalah pernah ditahan oleh Kodam. Maka saya meminta manajemen Bosowa, kita harus membuat koran. Itulah sebabnya Bosowa bekerja sama dengan Kompas, Gramedia mendirikan Tribun Timur di Makassar.

Bagaimana dan kapan Bapak mulai menyerahkan roda bisnis ini kepada generasi kedua?

Pertama saya serahkan pelan-pelan kepada Erwin, saya sempat mengantar dia 5 tahun, saya lihat kemampuannya, apakah potensinya sudah mulai keluar dan tanggung jwabnya sudah tinggi. Ketika saya terjun ke politik dan menjadi pimpinan di MPR, saya harus serahkan sepenuhnya ke Erwin, dengan pesan bahwa dia memimpin bisnis dan sekaligus memimpin adik-adiknya. Saya tanamkan filosofi ini bahwa ‘saudaramu lebih tinggi daripada uang.’ Sekali hubungan rusak, saudaramu itu tidak akan kembali. Tetapi kalau uang hilang kamu masih bisa mencari, uang boleh kita hilangkan, tapi saudara jangan. Tetapi sekarang Erwin masih menyiapkan ruangan kerja buat saya dengan pesan, bapak boleh menerima tamu di sini untuk membicarakan negara atau apa saja, tapi tidak untuk mengambil keputusan bisnis. Saya taat. Tapi katanya Bapak ikut berperan ketika Bosowa mengambil Bank Kesawan? Begini, di sini ada sesuatu yang emosional. Saya sadar kalau saya memang punya cita-cita mempunyai bank. Tetapi obsesi itu belum terpenuhi ketika saya harus mundur. Saya sering katakan kepada para saudagar Bugis bahwa kita kelihatan memiliki kebesaran di dunia usaha, tetapi tidak satu pun yang memiliki bank. Waktu menjadi Ketua Kadin, saya anjurkan teman-teman untuk membentuk BPR/BPRS, tapi rupanya tidak ada yang melaksanakan. Akhirnya saya dirikan sendiri BPRS, saya jalani sampai sekarang, namanya BPRS Moneter. Jadi semua riwayat saya dengan masa lalu terpenuhi sekarang. Kalau dulu saya mendirikan BPRS Moneter, sekarang saya memiliki bank, ketika dulu saya menjadi wartawan, sekarang membangun surat kabar.

Apakah tidak kecewa ketika sekarang harus melepas kegiatan bisnis?

Tidak kecewa walaupun ada perbedaannya. Terasanya setelah saya jadi pejabat negara, karena tidak terbiasa dengan kegiatan protokoler. Pengusaha kalau mau menjadi pejabat negara salah satu persoalannya adalah protokoler. Kalau pengusaha tidak perlu duduk di depan, pejabat negara selalu duduk di depan. Pengusaha itu kalau duduk di belakang biar bisa melobi atau membina hubungan silaturahmi, sedangkan pejabat negara hanya bisa berbicara dengan yang di samping kanan dan kirinya. Pengusaha bisa sampai 30-40 orang kita temui, kalau pejabat negara terbataslah. Nah, itulah ada untung ruginya. Tapi menjadi pejabat negara itu tidak gampang. Anda boleh punya uang segudang tapi belum tentu mendapat kesempatan. Saya juga tidak pernah bermimpi menjadi pimpinan MPR, tapi itu terjadi.


Bung Jaja Jalamulin, kawan aktifis kampus, Praktisi Pendidikan yang Nyambi Usaha Budidaya Lele

Sumber : http://www.trobos.com/show_article.php?rid=21&aid=2719

Menjadi pembudidaya lele cara untuk bersantai tapi punya nilai produktif

Rutinitas pekerjaan sehari-hari harus diakui telah melahirkan kejenuhan bagi banyak orang. Karena itu dibutuhkan aktivitas lain yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan utama demi mengembalikan semangat kerja. Refreshing, begitulah istilahnya sekarang. Dan bagi Jaja Jamaludin yang seorang staf administrasi di sebuah yayasan pendidikan di Lebak Bulus Jakarta Selatan, budidaya lele adalah cara paling ampuh untuk mengusir penat dan jenuh pekerjaannya.
Jaja yang kelahiran Tasikmalaya Jawa Barat pada 1973, sadar betul bahwa pekerjaan ke duanya sebagai pembudidaya lele jauh berbeda dengan profesinya sehari-hari. Namun dia menganggap pekerjaan itu sebagai cara untuk bersantai/refreshing tapi punya nilai produktif. “Menjadi pembudidaya lele ini bukan karena dorongan ekonomi saja, tetapi sekaligus demi nilai-nilai psikologis yang positif,” ujarnya sambil tersenyum.
Pria yang bermukim di Ciseeng, Parung, Kabupaten Bogor ini lalu menjelaskan, yang dimaksud nilai-nilai psikologis adalah ikan, air kolam, dan alam dalam konteks pembudidaya menjadi sarana untuk refreshing. Meski sambil santai, tapi kegiatan itu tidak menutup kemungkinan menghasilkan uang melebihi pendapatan utama. “Sebab saya lihat prospek budidaya lele ke depan sangat besar,” ucap lulusan pascasarjana Universitas Indonesia ini.
Juga sebagai persiapan hari tua nanti, jika sudah pensiun ataupun pensiun dini karena sudah mengetahui teknik budidaya lele. “Saya tidak segan-segan untuk menjadikan budidaya lele sebagai aktivitas sehari-hari nantinya,” ucap lelaki yang mirip salah satu tokoh politik nasional ini dengan semangat.

Tumbuhkan Jiwa Kewirausahaan
Memang, saat ini budidaya lele merupakan mata pencaharian ke dua bagi Jaja. Tetapi justru dari profesi sampingan itulah Jaja mengaku menjadi pribadi yang mempunyai jiwa entrepreneurship (kewirausahaan) dan bersahabat dengan kemajuan teknologi. “Seperti penggunaan internet,” imbuhnya.
Bagi pembudidaya yang tidak mengenal internet, sambungnya, mereka akan mandek dan tidak berkembang bahkan menjadi korban para tengkulak. Sebab tengkulak hanya berpikir bagaimana mendapatkan keuntungan yang besar tanpa memikirkan nasib para pembudidaya.
Bayangkan, kata Jaja lagi, para pembudidaya harus mendapatkan pendapatan sekitar 20 juta dengan mencurahkan pemikiran dan tenaga selama kurang lebih 2 bulan. Tetapi tengkulak, dalam 5 – 10 menit saja bisa mendapat keuntungan yang hampir sama. “Karena itu pembudidaya harus bisa mengurangi efek-efek negatif tengkulak, dengan membuat jaringan pasar sendiri. Caranya antara lain dengan melek internet,” ucap lelaki yang pernah mengajar pelajaran fisika ini.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Februari 2011